Loading...

6 Macam Klasifikasi Protozoa (Protista Mirip Hewan), Gambar dan Penjelasannya

Advertisement
Kata “Protozoa” berasal dari bahasa Yunani yaitu proto yang berarti pertama dan zoa yang berarti hewan. Jadi, Protozoa disebut juga sebagai hewan pertama. Protozoa merupakan anggota kingdom Protista yang menyerupai hewan karena memiliki sifat heterotrof, mampu bergerak dan menelan makanan. Seperti halnya hewan, Protozoa adalah konsumen, jadi hanya dapat hidup dengan mengambil makanan dari makhluk hidup lain.

Karena mampu bergerak aktif, maka Protozoa dikatakan bersifat motil. Untuk bergerak, Protozoa menggunakan alat gerak yang berbeda-beda. Ada yang bergerak menggunakan pseudopodia (kaki semu), silia (rambut getar) atau flagela (bulu cambuk). Dalam kajian evolusi, Protozoa diduga merupakan cikal bakal organisme hewan yang sangat kompleks dan saat ini kurang lebih sekitar 64.000 jenis Protozoa telah dikenali.

Ciri-ciri Protozoa antara lain sebagai berikut.
1. Uniseluler (bersel satu)
2. Eukariotik (bermembran inti)
3. Tidak memiliki dinding sel
4. mikroskopis (berukuran sangat kecil)
5. Heterotrof (tidak berfotosintesis)
6. Motil (bergerak aktif)
7. Bentuk sel bervariasi
8. Hidup soliter, koloni atau parasit
9. Kosmopolit (tersebar di berbagai tempat)
10. Berperan sebagai zooplankton
11. Bersifat saprofitik
12. Mampu membentuk kista

Untuk mempertahankan jenisnya, Protozoa berkembang biak dengan cara aseksual/vegetatif dan seksual/generatif. Reproduksi secara aseksual, yaitu dengan cara membelah diri atau pembagian selnya sama. Beberapa kelompok Protozoa bereproduksi secara seksual, yaitu dengan cara penggabungan atau penyatuan fisik sementara antara dua individu kemudian terjadi pertukaran nukleus.
Klasifikasi Protozoa (Protista Mirip Hewan)
Protozoa atau protista mirip hewan dikelompokkan ke dalam 6 jenis filum, yaitu Mastigophora (Flagellata), Rhizopoda (Sarcodina), Ciliophora (Ciliata/ Infusiora), Apicomplexa (Sporozoa), Foraminifera dan Actinopoda. Nah berikut ini adalah penjelasan singkat keenam kategori filum Protozoa tersebut beserta contoh dan peranannya bagi kehidupan manusia.
1. Filum Mastigophora (Flagellata)
Flagellata berasal dari kata flagellum yang berarti “bulu cambuk”. Flagellata juga sering disebut sebagai Mastigophora. Kata “mastigophora” berasal dari bahasa Yunani yaitu mastig yang berarti “cambuk” dan phoros yang berarti “gerakan”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Flagellata adalah jenis Protozoa yang memiliki alat gerak berupa bulu cambuk (flagela).
Filum Mastigophora (Flagellata)
Flagellata merupakan nenek moyang dari hewan dan tumbuhan. Flagela pada Flagellata letaknya berada pada ujung anterior tubuhnya. Selain berfungsi sebagai alat gerak, flagela juga dapat digunakan untuk mengetahui keadaan lingkungannya dan mengumpulkan makanan dengan cara menghasilkan aliran air di sekitar mulut sehingga makanan dapat memasuki mulut. Sitoplasma Flagellata dikelilingi oleh pelikel atau pembungkus yang nyata sehingga memberikan bentuk tubuh yang tetap.

2. Filum Rhizopoda (Sarcodina)
Istilah rhizopoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu rhizo yang berarti “akar” dan podos yang berarti “kaki”. Dengan demikian, Rhizopoda berarti kaki yang menyerupai akar. Rhizopoda merupakan Protozoa yang memiliki alat gerak berupa kaki semu (pseudopodia). Disebut pseudopodia atau kaki semu karena terbentuk sebagai hasil penjuluran sitoplasma sel, yang seolah-olah berfungsi sebagai kaki. Selain untuk bergerak, pseudopodia juga berfungsi untuk mencari makanan.
Filum Rhizopoda (Sarcodina)
Saat ini telah diketahui sekitar 40.000 jenis Rhizopoda atau Sarcodina, yaitu Protozoa yang bentuknya tidak tetap, selalu berubah-ubah. Salah satu contoh anggota Rhizopoda yang paling terkenal adalah Amoeba yang dapat hidup di air tawar, air asin, di tanah lembab, dan beberapa jenis hidup sebagai parasit pada hewan dan manusia.

Ketika bergerak, Amoeba akan menjulurkan pseudopodia dan mengaitkan ujungnya kemudian mengeluarkan lebih banyak sitoplasma ke dalam pseudopodia. Gerak semacam ini disebut gerak amoeboid. Dengan adanya kaki semu ini, berarti bentuk sel Rhizopoda berubah-ubah baik saat diam maupun saat bergerak.

3. Filum Ciliophora (Ciliata/ Infusiora)
Istilah “ciliata” berasal dari bahasa Latin cilia yang berarti “rambut kecil”. Ciliata adalah Protozoa yang mempunyai alat gerak berupa rambut getar (silia). Rambut getar inilah yang menjadi ciri khas Ciliata dan berfungsi sebagai alat gerak serta untuk mencari makan. Ciliata merupakan organisme bersel tunggal (uniseluler) dengan bentuk tetap atau tidak berubah.
Filum Ciliophora (Ciliata/ Infusiora)
Terdapat sekitar 8.000 jenis Ciliata yang bergerak dengan cilia (rambut getar) ini dan kebanyakan hidup di perairan air tawar. Ciliata dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan distribusi silia, yaitu silia pada sebagian sel saja dan silia yang menyelimuti seluruh bagian sel. Makanan Ciliata adalah bakteri dan ganggang mikroskopis. Ciliata memperoleh makanannya dengan cara menggerakkan silia sampai menimbulkan efek pusaran air sehingga makanan masuk ke pusaran air tersebut.

Ciliata memiliki banyak organel yang terspesialisasi termasuk cilia (tunggal cilium), struktur mirip rambut pendek di luar tubuhnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, cilia atau silia ini ada yang menutupi seluruh permukaan tubuh atau hanya terlokalisasi pada bagian tubuh tertentu. Pada genus Paramaecium, cilia menutupi seluruh permukaan tubuh.

Sistem koordinasi yang baik pada rambut getar, menyebabkan Ciliata dapat bergerak dengan cepat, sekitar satu milimeter per detiknya. Walaupun hanya bersel tunggal (uniseluler), Paramaecium dapat merespon lingkungan sekitar dengan baik. Jika bertemu dengan bahan kimia berbahaya atau panghalang, sel secara cepat akan mundur dengan gerakan silia menuju arah yang berbeda.

Ciliata adalah predator yang ulung. Beberapa Ciliata, termasuk Paramaecium dan Didinium, mampu membuat mangsa mereka tidak bergerak dengan melepaskan jarum-jarum yang disebut trikosista yang menempel pada tubuh mereka. Mangsa kemudian dibawa ke dalam struktur mirip mulut dan dicerna pada vakuola yang sewaktu-waktu berfungsi sebagai perut.

Ketika proses pencernaan makanan pada Ciliata telah selesai, maka sisa-sisa hasil metabolisme akan dikeluarkan melalui eksositosis. Di dalam tubuh Ciliata, air yang berlebihan akan diakumulasikan di dalam vakuola yang secara periodik (berkala) berkontraksi untuk mengosongkan cairan melalui lubang yang disebut dengan pori anal.

4. Filum Apicomplexa (Sporozoa)

Istilah Sporozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu spora yang berarti “benih” dan zoa yang berarti “hewan”. Sporozoa merupakan satu-satunya anggota Protozoa yang tidak memiliki alat gerak dan bergerak dengan cara meluncurkan tubuhnya dalam medium tempat hidupnya. Sesuai dengan namanya, Sporozoa memiliki ciri khas yaitu dapat membentuk spora dalam salah satu tahapan siklus hidupnya.
Filum Apicomplexa (Sporozoa)
Terdapat 4.000 jenis Sporozoa yang sebagian besar hidup sebagai parasit pada hewan dan juga manusia. Tubuh Sporozoa berbentuk bulat atau oval, memiliki nukleus tetapi tidak memiliki vakuola kontraktil. Bentuk dewasanya tidak mempunyai alat untuk bergerak. Banyak Sporozoa yang mempunyai daur hidup yang rumit, pada fase tertentu hidup pada suatu inang dan pada fase yang lain hidup pada inang yang berbeda.

Dalam daur hidupnya, Sporozoa menunjukkan adanya pergiliran keturunan antara fase vegetatif dan generatif. Sporozoa yang belum dewasa disebut sporosit yang mudah berpindah-pindah mengikuti aliran darah. Semua Sporozoa membentuk spora berdinding tebal ketika berada pada tahap zigot. Spora ini merupakan struktur yang tetap yang penyebarannya melalui makanan, air, atau gigitan serangga.

Meskipun Sporozoa tidak memiliki alat gerak, namun ia mengandung organel kompleks yang membantunya menempel dan menyerang inang. Banyak anggotanya yang memiliki siklus hidup yang kompleks. Oleh karena itu, kelas Sporozoa disebut juga dengan Apicomplexa. Salah satu contoh Sporozoa yang terkenal adalah penyebab penyakit malaria, yaitu Plamodium.

5. Filum Foraminifera
Foraminifera meliputi lebih dari 30.000 jenis yang telah diketahui, sebagian diantaranya merupakan fosil. Foraminifera menyerupai Amoeba yang hidup di laut tetapi mempunyai cangkang pelindung yang disebut testa. Kebanyakan testa berdinding rapat, namun ada pula yang berpori. Bentuk testa bermacam-macam, ada yang seperti tabung sederhana hingga yang berbentuk bilik spiral. Ukurannya rata-rata hanya 0,05 cm namun ada yang mencapai 8 cm.
Filum Foraminifera
Foraminifera bergerak dengan pseudopodia kecil yang muncul pada bagian testa yang terbuka yang disebut apertur. Pada testa yang berpori, pseudopodia menjulur melalui pori-pori ini. Foraminifera berkembang biak secara seksual dan aseksual. Seluruh sitoplasma digunakan untuk membentuk sel anak sehingga sel induk mati setelah berkembang biak. Foraminifera yang ada yang hidup di dasar laut dan ada yang mengapung di permukaan laut menyusun plankton. Makanan utamanya adalah bakteri dan diatom.

Makhluk dengan dinding sel lunak yang disebut Foraminifera (sejenis plankton) ini terdeteksi oleh kapal selam robot, Kaiko milik Jepang, oleh Yuko Toda dan rekan-rekannya dari Shizuoka University. Kemudian penemuan ini dilaporkan dalam majalah Science. Dalam tulisan tersebut dijelaskan jalur kekerabatan Foraminifera berdinding lunak dan termasuk satu-satunya species yang pernah menjelajahi daratan dan lautan. Analisis DNA organisme makhluk baru yang ditemukan ini juga menunjukkan mereka merupakan keluarga organisme primitif dari zaman Precambrian.

Apabila Foraminifera mati, cangkang testanya tenggelam dan berkumpul membentuk tanah globigerina (diambil dari nama Globigerinidae, yaitu salah satu familia dari Foraminifera yang paling melimpah). Piramida di Mesir dibuat dari tanah Foraminifera yang dilapisi dengan granit. Para ahli geologi juga mempelajari endapan cangkang Foraminifera sebagai petunjuk lokasi ditemukannya cadangan minyak bumi.

6. Filum Actinopoda
Actinopoda artinya kaki sinar. Pemberian nama ini mengacu pada bentuk pseudopodia runcing yang memencar dari tubuh Actinopoda. Pseudopodia tipe ini disebut axopodia. Axopodia membantu organisme ini mengapung dan memangsa organisme yang lebih kecil.
Filum Actinopoda
Contoh anggota filum ini adalah Heliozoa dan Radiozoa. Heliozoa umumnya hidup di air tawar dan menggunakan axopodia untuk memangsa, sedangkan Radiozoa umumnya hidup di laut dengan cangkang bersilikat yang berbeda-beda pada setiap spesies.

Post a Comment

Mohon berkomentar secara bijak dengan bahasa yang sopan dan tidak keluar dari topik permasalahan dalam artikel ini. Dan jangan ikut sertakan link promosi dalam bentuk apapun.
Terimakasih.

emo-but-icon

Home item

Materi Terbaru